ada gue disini
Tepat pukul 9.30, Nala sampai di depan rumah berpagar warna cream milik Vanya. Diketuknya pintu itu hingga muncul sosok wanita yang umurnya tak lagi muda, wajahnya mirip dengan Vanya.
“Nala! Ayo masuk nak, Vanya udah tunggu kamu di ruang makan.” ucap Tante Rena, Mama Vanya.
Nala tersenyum kecil, “Maaf ya tante, aku ngerepotin terus malem malem,”
“Loh, engga kok. Kamu mau tiap hari kesini juga gapapa, kamu ini udah dari kecil kok masih ga enakan aja,” ucap Tante Rena sambil menuntun Nala ke ruang makan.
Disana sudah ada Vanya yang sedang memainkan hp nya, “Lo baru selesai latihan banget?”
Nala mengangguk sambil ikut duduk disampingnya, “Biasalah, mau lomba jadi latihannya sampe malem lagi.”
“Nala, tante tinggal ke atas dulu ya,”
“Eh iya tante, selamat istirahat ya tan.”
Selepas Tante Rena ke atas, Nala mulai memakan masakan Tante Rena yang sudah ia ambil, “Gimana sama Dion?”
Vanya yang sedang memakan cemilan kesukaannya menoleh sambil tersenyum lebar, “Lo tau ga sih? tadi gue diajak ke timezone sama dia, seru banget!” jawab nya sangat antusias.
“Lo seneng?”
“Banget!”
Nala ikut tersenyum melihat sahabatnya senang, “Syukur deh, kalo dia macem macem sama lo bilang gue ya?”
Vanya mengacungkan jempolnya, “Aman!”
Setelah mencuci piring bekas makannya, kini keduanya berada di kamar Vanya yang bernuansa pink itu. Banyak hiasan pernak pernik sehingga membuat kesan kamar itu cantik. Jauh berbeda dengan kamar Nala yang tidak memiliki pernak pernik seperti Vanya.
Vanya menepuk bahu Nala yang sedang melamun menatap keluar jendela kamar yang memang terbuka. Ditatapnya bulan yang dikelilingi bintang dengan cahaya yang bersinar.
“Nala,” panggilnya.
Nala sedikit terkejut, “Ya?”
“Tadi kak Lana telfon gue, dia nanya lo ada disini atau engga,”
“Terus lo jawab apa?”
“Gue bilang iya, maaf ya Nala gue ga bisa bohong ke kak Lana.” ucap Vanya sedikit menyesal.
Nala tersenyum tipis menatap Vanya, “Gapapa kali Nya, santai aja,”
Nala kembali menatap bulan tadi, “Gue kangen mama Nya,” Vanya sontak mengusap lengan Nala. Disaat seperti ini lah Nala yang dikenal galak, menjadi terlihat rapuh.
Vanya satu satunya teman Nala sejak kecil, jadi bisa dibilang ia tahu banyak tentang kehidupan Nala. Kalau kalian mengira Nala introvert, kalian salah besar. Walaupun terkesan galak, Nala terkenal dengan sikapnya yang friendly hanya saja ia benar benar selektif dalam memilih sahabat.
Perlahan air matanya menetes, Vanya memeluknya dari samping membiarkan Nala menangis sepuasnya.
“It's okey, Nal. Nangis sepuas lo, ada gue disini.”