Broke up
Jordan masuk ke cafe yang biasa ia datangi dulu bersama Aileen. Kakinya melangkah menuju meja no.14 sesuai yang Aileen katakan.
“Sayang” panggilnya.
Aileen menoleh, tersenyum tipis saat melihat Jordan datang seperti tidak punya salah.
“Udah lama?” tanyanya. Aileen menggeleng, “Belum, oh ya aku udah pesenin minuman kamu. Kaya biasa kan?” jawab Aileen.
Jordan tersenyum, “Jadi? apa yang mau kamu omongin?”
Pikirannya melayang mengingat betapa jahatnya Jordan yang mendua dibelakangnya.
Aileen menyesap sedikit minumannya, “To the point aja ya, jadi sejak kapan?” nada bicaranya terlihat tenang, padahal hatinya sangat sakit.
Jordan mengerutkan keningnya bingung, “Sejak kapan apanya?”
“Kamu sama Reva.” Bisa Aileen lihat dengan jelas wajah Jordan yang terlihat kaget.
“Apanya yang sama Reva?”
Aileen terkekeh pelan, tangannya membuka aplikasi galeri di handphone nya. Menunjukkan beberapa foto dimana Jordan dan Reva berpelukan, berjalan sambil bergandeng tangan, bahu Reva yang nampak dirangkul olehnya.
Jordan terdiam melihat foto yang ditunjukkan padanya, “Masih mau ngebantah?” tanya Aileen.
“Aileen, aku bisa jelasin” ucap Jordan.
“Apa? Mau jelasin apalagi? Mau jelasin kalo selama ini emang bener kamu selingkuh sama dia?!” bentak Aileen. Sebisa mungkin ia menahan air mata yang bisa saja jatuh saat itu juga.
“Ai, aku sama dia cuma temen” bantah Jordan, tangan nya berusaha memegang tangan Aileen.
Aileen menarik tangannya, “Coba jelasin sama aku, pertemanan kaya gimana yang kamu maksud?”
“Ai—”
“Udah berapa lama?” ucapan Jordan terpotong oleh pertanyaan Aileen.
“Aileen, aku—”
“Aku tanya udah berapa lama?!” emosi Aileen sudah tak bisa dikendalikan.
“3 bulan”
Aileen tersenyum pahit, sudah 3 bulan Jordan bermain dibelakangnya. “3 bulan? 3 bulan kamu selingkuh dibelakang aku, 3 bulan kamu bohongin aku, 3 bulan kamu bertingkah seolah olah kamu sayang aku dan cuma aku satu satunya Jo?!”
Air matanya tak bisa lagi ditahan, “Apa salah aku?! Aku kurang apa sampe kamu selingkuh?! Jawab!”
Jordan masih berusaha menggenggam tangan Aileen, “Maaf.. Maaf.. kamu gak salah Aileen, aku yang salah”
“Kamu jangan nangis...”
Aileen tertawa mendengar jawaban Jordan, “Bisa bisanya aku disuruh jangan nangis sama orang yang bikin aku nangis”
“Kita udahan ya” lanjut Aileen.
“Ga, Aileen! aku gak mau putus” sanggah Jordan.
“Setelah selingkuhin aku dan kamu masih bilang ga mau putus? Pikiran kamu kemana Jo?!”
“Kita udah selesai, ga akan ada lagi aku dan kamu. Yang ada sekarang cuma kamu dan 'sahabat' kamu itu” ucap Aileen sambil menekankan kata sahabat.
Aileen bangkit dari duduknya dan pergi dari cafe itu. Jordan berusaha mengejar Aileen yang mulai hilang dari pandangannya.
“Aileen!”
Bugh
Sebuah pukulan pas mengenai wajahnya. Jordan memegang bibirnya yang sedikit keluar darah lalu menoleh, ia melihat Jean.
“Jean lo—” ucapannya terputus ketika ia mendapati sebuah pukulan lagi dari Jean.
“Bangsat!” Jean tampak sangat emosi saat itu, “Bisa bisanya lo selingkuhin Aileen yang udah sabar sama kelakuan brengsek lo!”
Bugh Jordan membalas pukulan Jean, “Lo gak berhak mukul gue apalagi ikut campur urusan gue!”
Jean kembali memukul Jordan, “Gue berhak buat mukul siapapun yang berani nyakitin sahabat gue, anjing!!”
Perkelahian itu tak berselang lama, karna saat itu tak sengaja Aidan lewat dan memisahkan mereka.
“Jean! udah anjing! anak orang mau lo matiin?!” Aidan menarik Jean menjauh dari Jordan.
Lantas Jordan pergi dari sana, sedangkan Jean masih ditahan Aidan. Karna kalau tidak, bisa masuk rumah sakit si Jordan.
Jean pergi kembali masuk ke mobilnya, dan pergi dari cafe itu meninggalkan Aidan.
“Lah, anjing kok jadi gue yang ditinggal??”