Nala bukan Lana.

Selepas selesai latihan dan mengantar Vanya, Nala langsung pulang kerumahnya. Rasa penat yang ia rasakan membuat nya ingin cepat istirahat.

Namun, saat kakinya melangkah masuk kedalam rumah, ada suara yang sangat ia hindari selama ini.

“Darimana kamu baru pulang jam segini?”

Nala diam tak menjawab, ketika ia rasa suara itu mendekat ke arahnya. Tubuhnya berbalik menatap seorang laki laki yang umurnya tak lagi muda memandang nya dengan datar.

“Bukan urusan papa.” Kakinya kembali melangkah menaiki tangga, namun lagi lagi terhenti.

“Jelas masih urusan papa! Kamu ini anak perempuan, ga seharusnya pulang malem kaya gini!”

Nala menatap kembali sang papa dengan senyum meremehkan, “Urusan papa? Urusan papa cuma kerja, kerja, dan Lana.”

“Kanala!”

“Apa? Aku bener kan? Waktu aku sakit, apa papa peduli? Aku pulang cepet atau malem, apa peduli? Waktu aku ada dimasa terpuruk, apa papa pernah peduli?! Jawab aku pa!” Kini emosi Nala tak lagi tertahan.

“Ga bisa jawab?” Nala tertawa pelan dan memilih meninggalkan sang papa.

“Kamu ini bener bener ya! Kenapa sih kamu ga bisa ikutin kaya kakak kamu?! Liat Lana, dia bisa lulus dengan nilai terbaik, masuk kampus terbaik, dia lebih baik dari kamu, Nala! Apa pernah Lana keluyuran ga jelas kaya kamu?!”

Lagi, dirinya dibandingkan dengan Lana. Nala sudah berkali kali memberitahu bahwa kemampuan dirinya berbeda dengan kemampuan Lana. Namun, sang papa enggan untuk menerima pernyataan itu.

“Karna aku Kanala, bukan Kalana. Jadi stop bandingin aku sama kak Lana! Aku latihan pa, aku bawa nama baik sekolah, bawa nama baik keluarga, nama baik papa!”

“Apanya bawa nama baik?! Pokoknya papa gamau tau, semester ini nilai kamu harus masuk nilai terbaik satu sekolah, atau kamu tau akibatnya.”

“Terserah! Aku ga peduli.” ucapnya sambil keluar dari rumah, tak peduli namanya dipanggil berkali kali.

“Ma .... Nala capek, Nala harus apa biar papa ngerti?”