Siapa?
Lana berlari kecil menuruni tangga dengan memakai piyama bergambar bunga daisy menghampiri Nala.
“Wahh kok tau lagi mau red velvet?” tanya Lana sambil menyuapkan kue itu ke dalam mulutnya.
Nala hanya mengedikkan bahunya, “Gatau, mau beli aja,” balasnya.
“Emm .... Nala, tadi papa nanya kamu kemana,” Lana menatap Nala dengan sedikit was-was, takut akan respon sang adik.
“Trus? kakak jawab apa?”
“Aku bilang gatau, aku takut papa samperin kamu,”
“Terus kata papa, dia mau ketemu sama kamu ada yang mau diomongin.” lanjut Lana.
Nala melirik sekilas Lana lalu melanjutkan kegiatannya yang sedang memakan martabak yang tadi ia beli, “Kakak tau kan jawabannya?”
“Kamu apa gamau sekali aja ketemu?” Lana menatap sedih kearahnya. Nala tidak pernah mau bertemu sang ayah sejak hari itu, berpapasan sebentar saja Nala langsung pergi. Padahal sejak dulu, Nala sangat dekat dengan sang ayah.
Nala terkekeh, “Buat apa kak? Buat aku denger maki an papa? Denger perintah papa yang ga pernah bisa ngertiin aku? Ga ada gunanya kak,”
Lana memilih diam tak mau membalas ucapan Nala.
Nala menatap wajah sang kakak, ada yang aneh disana. Pipinya merah seperti bekas tamparan dan dahinya terdapat luka yang sepertinya baru saja mengering, “Siapa yang ngelakuin?”
Sontak Lana menoleh kaget, “Hah? Siapa apanya?”
“Tuh,” Nala menunjuk ke arah wajahnya.
“Oh, engga ini tadi kebentur lemari,” bohongnya.
Nala tersenyum kecil, “Jangan bohong kak,”
Lana diam sibuk mencari alasan. “Gamau kasih tau? Oke, aku yang cari tau sendiri.”
Namun, Nala tidak bisa dibohongi hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kamar duluan.