Takdir
Tepat jam 8:05, Jean menemui Ervin di Cafe depan kampus. “Ervin!” panggilnya.
“Duduk Je,” ucap Ervin sambil menggeser minuman milik Jean, “Americano kesukaan lo kan? Aileen pernah cerita ke gue.” sambungnya sambil tersenyum kecil.
Jean terdiam hingga dia bertanya duluan ke Ervin, “Jadi kenapa lo ngajak gue ketemu?”
“Gue mau pindah ke Swiss,” Ervin menatap Jean sebentar yang terlihat bingung.
“Bunda minta gue buat pindah kesana, dan tentang Aileen, pencarian nya dihentikan.”
“Maksud lo apa?!” tanya Jean sedikit membentak, “Kenapa berhenti?! Jangan gila Ervin!”
“Gue serius Jean! Bunda yang ngasih tau gue, karna disana udah ga ada lagi tanda tanda adanya korban, makanya pencarian berhenti,” ucap Ervin.
Bahu Jean meluruh, badannya lemas ketika tahu bahwa Aileen tak bisa ditemukan. Seketika dunia nya terhenti, ia fikir Ervin menemuinya karena Aileen sudah ditemukan, nyatanya ia harus kehilangan seorang yang ia sayang yang tak tahu dimana keberadaannya dan bagaimana keadaannya.
“Jam 11 gue bakal berangkat,” Jean menoleh ke arah Ervin, “Beneran ga ada cara lain buat nemuin vin?” Ervin menggeleng lemas.
Ia pun juga sama hancurnya dengan Jean, bahkan lebih. Aileen kembarannya, yang sangat sangat ia sayangi. Ervin merasa gagal karna tidak bisa saling menjaga dengan Aileen.
“Doain aja ya Je, semoga disana gue ketemu sama Aileen.” ucap Ervin sedikit memberi harapan.
“Hati hati ya vin, gue tunggu kabar baik tentang Aileen.” ucap Jean sebelum Ervin pergi meninggalkannya.
Takdir mempermainkan kita ya Ai? Aku kira aku dapet kabar baik tentang kamu, tapi malah kabar buruk yang gak pernah mau aku denger. Kamu dimana? Cepat pulang, Aku akan tunggu kamu, sampai kapanpun hatiku selalu punya kamu. Aku selalu sayang kamu