mazcchiato

Pertandingan tadi dipenuhi dengan sorakan masing masing tim. Nala, memenangkan pertandingan ini dengan begitu mudah.

Dirinya berjalan dengan menenteng piala ditangan kanannya dan helm ditangan kirinya menghampiri tim-nya, Bregas.

“Ini dia jagoan kita! Padahal abis hiat sebulan, tapi sekali turun langsung menang,” ucap salah satu temannya, Reno.

“Iya anjir, jago banget lo She! Lawan lo kan si Kenzo,” sahut lainnya.

Nala mengerutkan keningnya, “Oh namanya Kenzo?”

“Lah? Lo balapan tapi gatau lawan lo siapa?” tanya Reno. Nala menggeleng pertanda ia tidak tahu bahwa nama lawannya adalah Kenzo.

“Wah gila sih bisa bisanya lo gatau, padahal si Kenzo nih terkenal loh ga ada yang bisa ngalahin.”

“Halah itu mah temen temennya aja yang bikin rumor begitu. Nih buktinya, dia kalah sama Shezaa,” sanggah Reno lalu menoleh ketika melihat orang yang sedang mereka bicarakan menghampiri mereka.

Reno mengirimkan kode kepada Nala untuk menoleh kearah belakang nya. Nala pun menoleh dan melihat Kenzo, berdiri disana menatapnya dengan tatapan seperti marah.

Nala menatap nya datar tanpa ekspresi, menunggu Kenzo bersuara mengutarakan tujuannya. “Oh lo yang ngalahin gue tadi?” ucapnya sambil memandang remeh Nala.

Nala menaikkan sebelah alisnya, ia sudah bisa menebak. Kenzo bukanlah orang yang bisa menerima kekalahan, dan tidak ingin berada dibawah orang lain.

“Gausah seneng dulu, tadi itu lo cuma hoki!” ucap Kenzo.

“Terserah, nyatanya gue yang menang kan?” jawab Nala dengan santai yang disahuti sorakan senang dari anak Bregas.

Kenzo mengepalkan tangannya, tidak terima dirinya diledek oleh lawan. “Lo! Ga pantes ada ditempat ini, lo ga sebanding sama gue!” Lagi lagi Kenzo meremehkannya.

Tama yang baru saja datang hanya melihatnya tanpa mau ikut memisahkan Karna menurutnya, Nala sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Nala memilih meninggalkan Kenzo yang masih terlihat marah, “Dasar cewek ga bener! Pasti orang tua lo ga becus ngurus anaknya sampe kaya gini! Apalagi nyokap lo, pasti kelakuannya mirip kaya lo, ga bener.” Kenzo menatap Nala dengan tersenyum remeh.

Bugh Semua yang berada disana bahkan tim lain pun menoleh. Tepat ketika Kenzo menutup mulutnya, saat itu juga Nala menghajar bagian hidung dan bibirnya hingga darah segar keluar dari sana.

“Sampah,” ucap Nala dengan penuh penekanan.

Semua diam hingga teman teman Kenzo mulai membawa pergi Kenzo yang merintih kesakitan.

“Lo inget ini, jangan sekali kali bawa bawa keluarga gue,”

“Atau besok, gue pastiin lo ga akan bisa lihat dunia.”

Nala menghampiri sebuah kerumunan yang sedang asik mengobrol, Tama salah satu dari mereka.

“Bang Tama!” panggilnya.

Sang empunya nama pun menoleh, “Hey Nala! Baru sampe?” Nala mengangguk sambil tersenyum kecil.

“Ini nih yang ditunggu tunggu. Guys, Shezaa in here!” ucap Tama sambil merangkul Nala yang melambaikan tangannya.

“Wihh akhirnya ya setelah sebulan ga turun” “Gue yakin lo menang lagi sih, She!” “Kalo lo menang, Ducati gue buat lo deh,”

Begitu kira kira ucapan teman teman Nala ketika ia duduk bergabung bersama mereka.

“Kakak lo gimana?” tanya Tama sambil memberikan sebuah minuman kemasan kaleng berwarna biru kepadanya.

“Baik kok bang, lagi nginep di rumah temennya. Makanya gue bisa turun,”

Tama tersenyum menatap Nala yang meminum minuman pemberiannya. Gadis itu terlihat seperti tidak ada beban ketika berada di depan banyak orang.

Bagi Tama, Nala sudah seperti adiknya sendiri. Tama mengenalnya sejak Nala SMP, Ia bertemu Nala pertama kali ketika melihat gadis itu terjatuh di dekat taman komplek rumahnya.

Flashback On “Loh kenapa jatuh?” tanya Tama yang baru pulang dari sekolah.

Nala yang sedang memegang lututnya yang berdarah pun menoleh, “Aku tadi ngebut kak, soalnya buru buru kata kakakku mama sakit,”

Tama menatap sedikit aneh melihat Nala yang tidak menangis, padahal lutut dan lengannya ada luka yang cukup besar dengan darah yang terus mengalir. Biasanya anak seumurannya apalagi perempuan pasti akan menangis.

“Kamu ga nangis? Itu lukanya pasti sakit loh,” ucap Tama sambil membersihkan luka itu dengan air yang memang ia bawa.

Nala menggelengkan kepalanya, “Ngga kok,” Matanya tak lepas menatap Tama yang selesai membersihkan lukanya. “Kak, bisa bantu aku pulang ga? Rumah ku ga jauh kok dari sini, aku ga bisa bangun.”

Sontak Tama mengangguk cepat dan mengantarkan Nala kecil pulang kerumahnya.

Flashback Off

“Shezaa! Giliran lo,” ucap seseorang yang baru saja menghampiri tim nya.

Bahunya ditepuk oleh Tama, “Good luck, Nala. Gue yakin lo pasti menang,” Nala mengacungkan jempol nya lalu pergi dengan menenteng helmnya.

Tepat pukul 9.30, Nala sampai di depan rumah berpagar warna cream milik Vanya. Diketuknya pintu itu hingga muncul sosok wanita yang umurnya tak lagi muda, wajahnya mirip dengan Vanya.

“Nala! Ayo masuk nak, Vanya udah tunggu kamu di ruang makan.” ucap Tante Rena, Mama Vanya.

Nala tersenyum kecil, “Maaf ya tante, aku ngerepotin terus malem malem,”

“Loh, engga kok. Kamu mau tiap hari kesini juga gapapa, kamu ini udah dari kecil kok masih ga enakan aja,” ucap Tante Rena sambil menuntun Nala ke ruang makan.

Disana sudah ada Vanya yang sedang memainkan hp nya, “Lo baru selesai latihan banget?”

Nala mengangguk sambil ikut duduk disampingnya, “Biasalah, mau lomba jadi latihannya sampe malem lagi.”

“Nala, tante tinggal ke atas dulu ya,”

“Eh iya tante, selamat istirahat ya tan.”

Selepas Tante Rena ke atas, Nala mulai memakan masakan Tante Rena yang sudah ia ambil, “Gimana sama Dion?”

Vanya yang sedang memakan cemilan kesukaannya menoleh sambil tersenyum lebar, “Lo tau ga sih? tadi gue diajak ke timezone sama dia, seru banget!” jawab nya sangat antusias.

“Lo seneng?”

“Banget!”

Nala ikut tersenyum melihat sahabatnya senang, “Syukur deh, kalo dia macem macem sama lo bilang gue ya?”

Vanya mengacungkan jempolnya, “Aman!”

Setelah mencuci piring bekas makannya, kini keduanya berada di kamar Vanya yang bernuansa pink itu. Banyak hiasan pernak pernik sehingga membuat kesan kamar itu cantik. Jauh berbeda dengan kamar Nala yang tidak memiliki pernak pernik seperti Vanya.

Vanya menepuk bahu Nala yang sedang melamun menatap keluar jendela kamar yang memang terbuka. Ditatapnya bulan yang dikelilingi bintang dengan cahaya yang bersinar.

“Nala,” panggilnya.

Nala sedikit terkejut, “Ya?”

“Tadi kak Lana telfon gue, dia nanya lo ada disini atau engga,”

“Terus lo jawab apa?”

“Gue bilang iya, maaf ya Nala gue ga bisa bohong ke kak Lana.” ucap Vanya sedikit menyesal.

Nala tersenyum tipis menatap Vanya, “Gapapa kali Nya, santai aja,”

Nala kembali menatap bulan tadi, “Gue kangen mama Nya,” Vanya sontak mengusap lengan Nala. Disaat seperti ini lah Nala yang dikenal galak, menjadi terlihat rapuh.

Vanya satu satunya teman Nala sejak kecil, jadi bisa dibilang ia tahu banyak tentang kehidupan Nala. Kalau kalian mengira Nala introvert, kalian salah besar. Walaupun terkesan galak, Nala terkenal dengan sikapnya yang friendly hanya saja ia benar benar selektif dalam memilih sahabat.

Perlahan air matanya menetes, Vanya memeluknya dari samping membiarkan Nala menangis sepuasnya.

“It's okey, Nal. Nangis sepuas lo, ada gue disini.”

Tepat jam 8:05, Jean menemui Ervin di Cafe depan kampus. “Ervin!” panggilnya.

“Duduk Je,” ucap Ervin sambil menggeser minuman milik Jean, “Americano kesukaan lo kan? Aileen pernah cerita ke gue.” sambungnya sambil tersenyum kecil.

Jean terdiam hingga dia bertanya duluan ke Ervin, “Jadi kenapa lo ngajak gue ketemu?”

“Gue mau pindah ke Swiss,” Ervin menatap Jean sebentar yang terlihat bingung.

“Bunda minta gue buat pindah kesana, dan tentang Aileen, pencarian nya dihentikan.”

“Maksud lo apa?!” tanya Jean sedikit membentak, “Kenapa berhenti?! Jangan gila Ervin!”

“Gue serius Jean! Bunda yang ngasih tau gue, karna disana udah ga ada lagi tanda tanda adanya korban, makanya pencarian berhenti,” ucap Ervin.

Bahu Jean meluruh, badannya lemas ketika tahu bahwa Aileen tak bisa ditemukan. Seketika dunia nya terhenti, ia fikir Ervin menemuinya karena Aileen sudah ditemukan, nyatanya ia harus kehilangan seorang yang ia sayang yang tak tahu dimana keberadaannya dan bagaimana keadaannya.

“Jam 11 gue bakal berangkat,” Jean menoleh ke arah Ervin, “Beneran ga ada cara lain buat nemuin vin?” Ervin menggeleng lemas.

Ia pun juga sama hancurnya dengan Jean, bahkan lebih. Aileen kembarannya, yang sangat sangat ia sayangi. Ervin merasa gagal karna tidak bisa saling menjaga dengan Aileen.

“Doain aja ya Je, semoga disana gue ketemu sama Aileen.” ucap Ervin sedikit memberi harapan.

“Hati hati ya vin, gue tunggu kabar baik tentang Aileen.” ucap Jean sebelum Ervin pergi meninggalkannya.

Takdir mempermainkan kita ya Ai? Aku kira aku dapet kabar baik tentang kamu, tapi malah kabar buruk yang gak pernah mau aku denger. Kamu dimana? Cepat pulang, Aku akan tunggu kamu, sampai kapanpun hatiku selalu punya kamu. Aku selalu sayang kamu

Setelah bersiap untuk berangkat, Aileen turun kebawah untuk sarapan terlebih dahulu bersama Ervin. Dilihatnya Ervin yang baru saja duduk di meja makan.

“Cuma ada sandwich gapapa ya ai? Si mbak lagi izin anaknya sakit.” ucap Ervin.

Aileen mengangguk lalu duduk disampingnya. Tiba tiba pikirannya membayangkan jika sang bunda ada di rumah pasti ia akan dibuatkan sarapan kesukaannya. Ervin yang melihat Aileen makan sambil melamun pun menegur, “Aileen, ga enak ya?”

“Hah? Enak kok, cuma kangen bunda aja.” ucapnya dengan lirih.

Lantas Ervin langsung mengusap punggung Aileen sambil tersenyum kecil, “Nanti kita susul bunda ya? minggu depan kan udah libur semester.” Dapat Ervin lihat mata Aileen yang berbinar, detik selanjutnya ia langsung memeluk Ervin dengan erat, “Makasih ya Vin!”

Bunda mereka sedang ada di Swiss menemani sang kakek yang sedang dirawat disana sejak 6 bulan lalu, makanya Aileen sangat senang ketika Ervin mengatakan akan menyusul kesana.

ekhm btw abis jadian nih, gimana gimana??” tanya Ervin sambil meledek setelah Aileen melepas pelukannya.

Yang ditanya malah tersenyum malu, “Ya gitu deh .... ” jawabnya.

“Yang bener kadal! Kalo Jean nyakitin lo, harus bilang ke gue dulu oke? biar langsung gue hajar dia.” ucap Ervin serius.

“IYAA IH GALAK AMAT ENTE”

Hp Aileen bergetar tanda ada notif masuk, dari Jean. Aileen menyuruh Jean masuk sebentar ketika Jean bilang sudah didepan rumahnya. Segera Aileen mengambil barang yang tertinggal di kamarnya.

Aileen dibuat terpaku saat melihat Jean sedang duduk di ruang tamu bersama Ervin.

“Tuh Aileen, berangkat dah sana,” ucap Ervin.

Setelah berpamitan buru buru Aileen masuk duluan ke mobil Jean, “Kenapa sih? tanya Jean ketika sudah duduk di kursi pengemudi.

“Kamu ganteng banget deh,” jawaban Aileen yang bisa dipastikan saat itu juga membuat Jean salah tingkah.

Setelah membalas pesan dari Jean, Aileen bangun dari tempat tidurnya. Wajahnya menampakkan senyum yang tak bisa diartikan.

Bahagia? tentu! Siapa yang tidak bahagia jika perasaan nya terbalas?

Buru buru ia merapihkan dirinya dan segera turun menemui Jean. Dilihatnya Ervin, Juno dan Jean yang sedang mengobrol. Juno, teman Ervin sedang bermain dengan Ervin sejak sore tadi.

“Nah itu Aileen,” ucap Ervin.

Aileen yang ditatap Jean seketika salah tingkah hingga dahinya menabrak tembok. “Aduh!

Jean yang melihatnya pun dengan sigap menghampirinya, “Liat liat dong Ai kalo jalan.”

Aileen hanya tersenyum kikuk ketika Jean memegang dahinya. “Yauda Vin, gue sama Aileen keluar dulu ya?”

Ervin mengangguk sambil mengacungkan jempol nya, “Hati hati ya! Daahh selamat jalan jalan pasangan baru.” ujarnya sambil tertawa yang dibalas dengan tumpukan sendal dari Aileen.


Kini, Aileen dan Jean berada di pasar malam dekat kampus. Canggung, itu yang menggambarkan keadaan mereka sekarang.

Jean menarik tangan Aileen pelan ke sebuah meja dekat bianglala, “Mau diem dieman sampe kapan?” ucapnya setelah keduanya duduk berdampingan.

Aileen menatapnya sekilas lalu kembali melihat lalu lalang orang didepannya, “Nengok sini dong.”

“Apaan sih Je, biasa aja ngeliat nya,” Aileen menatap kesal Jean yang menatapnya jahil.

Jean tertawa, “Katanya suka sama gue? tapi kok dianggurin?”

“Jean! Diem ga?!”

“Ya makanya hadap gue dulu,”

“Gamau!”

“Ya masa gue nembak tapi lo nya ga liat gue,” sontak Aileen menoleh kearahnya. “Beneran mau gue tembak ya?” Jean tertawa dan lagi Aileen kesal dibuatnya.

“Asu! Ngeselin banget lo, mau pulang aja gue,” Aileen bangkit dari duduknya namun ditahan oleh Jean.

“Marah marah ih si cantik,”

“Jean!”

Lagi lagi Jean dibuat tertawa oleh sikap Aileen yang menurut nya sangat gemas, “Iya iya sini duduk,”

“Sebelumnya, makasih karna lo udah berani confess ke gue. Lo keren banget udah berani jujur tentang perasaan lo, makasih ya Ai?”

Aileen mengangguk sambil tersenyum malu, “Dan, gue juga mau jujur kalo gue juga suka sama lo. Maaf ternyata gue juga baru sadar ada perasaan lebih ke lo.”

Jean menarik tangan Aileen lalu digenggamnya dan menatap matanya dalam, “Lo tau Ai? Seringkali temen gue nyadarin kalo gue punya perasaan lebih ke lo. Tapi gue selalu ngebantah cuma anggep lo temen. Tapi waktu liat lo pulang bahkan jalan sama si Raka, gue kesel banget. Gue telat sadar ya? maaf ya?”

“Gue juga gitu kok Je, gapapa kita emang telat sadar aja,,” ucap Aileen.

Jean tersenyum menatapnya, “Jadi Aileen, lo mau rubah status sahabat jadi pacar sama gue?”

Aileen menarik tangannya dari genggaman Jean yang tentunya membuat Jean heran, bertanya tanya apakah ia ditolak atau tidak.

Namun, detik selanjutnya ia dibuat kaget karna tiba tiba Aileen memeluknya hingga ia hampir terhuyung ke belakang.

“Gue rasa lo tau jawabannya,” jawab Aileen dan detik selanjutnya Jean ikut memeluk Aileen.

Malam itu, yang mungkin disaksikan banyak orang mereka merubah statusnya yang sebelumnya sahabat menjadi pacar.

Setelah membalas pesan dari Jean, Aileen bangun dari tempat tidurnya. Wajahnya menampakkan senyum yang tak bisa diartikan.

Bahagia? tentu! Siapa yang tidak bahagia jika perasaan nya terbalas?

Buru buru ia merapihkan dirinya dan segera turun menemui Jean. Dilihatnya Ervin, Juno dan Jean yang sedang mengobrol. Juno, teman Ervin sedang bermain dengan Ervin sejak sore tadi.

“Nah itu Aileen,” ucap Ervin.

Aileen yang ditatap Jean seketika salah tingkah hingga dahinya menabrak tembok. “Aduh!

Jean yang melihatnya pun dengan sigap menghampirinya, “Liat liat dong Ai kalo jalan.”

Aileen hanya tersenyum kikuk ketika Jean memegang dahinya. “Yauda Vin, gue sama Aileen keluar dulu ya?”

Ervin mengangguk sambil mengacungkan jempol nya, “Hati hati ya! Daahh selamat jalan jalan pasangan baru.” ujarnya sambil tertawa yang dibalas dengan tumpukan sendal dari Aileen.

——

Kini, Aileen dan Jean berada di pasar malam dekat kampus. Canggung, itu yang menggambarkan keadaan mereka sekarang.

Jean menarik tangan Aileen pelan ke sebuah meja dekat bianglala, “Mau diem dieman sampe kapan?” ucapnya setelah keduanya duduk berdampingan.

Aileen menatapnya sekilas lalu kembali melihat lalu lalang orang didepannya, “Nengok sini dong.”

“Apaan sih Je, biasa aja ngeliat nya,” Aileen menatap kesal Jean yang menatapnya jahil.

Jean tertawa, “Katanya suka sama gue? tapi kok dianggurin?”

“Jean! Diem ga?!”

“Ya makanya hadap gue dulu,”

“Gamau!”

“Ya masa gue nembak tapi lo nya ga liat gue,” sontak Aileen menoleh kearahnya. “Beneran mau gue tembak ya?” Jean tertawa dan lagi Aileen kesal dibuatnya.

“Asu! Ngeselin banget lo, mau pulang aja gue,” Aileen bangkit dari duduknya namun ditahan oleh Jean.

“Marah marah ih si cantik,”

“Jean!”

Lagi lagi Jean dibuat tertawa oleh sikap Aileen yang menurut nya sangat gemas, “Iya iya sini duduk,”

“Sebelumnya, makasih karna lo udah berani confess ke gue. Lo keren banget udah berani jujur tentang perasaan lo, makasih ya Ai?”

Aileen mengangguk sambil tersenyum malu, “Dan, gue juga mau jujur kalo gue juga suka sama lo. Maaf ternyata gue juga baru sadar ada perasaan lebih ke lo.”

Jean menarik tangan Aileen lalu digenggamnya dan menatap matanya dalam, “Lo tau Ai? Seringkali temen gue nyadarin kalo gue punya perasaan lebih ke lo. Tapi gue selalu ngebantah cuma anggep lo temen. Tapi waktu liat lo pulang bahkan jalan sama si Raka, gue kesel banget. Gue telat sadar ya? maaf ya?”

“Gue juga gitu kok Je, gapapa kita emang telat sadar aja,,” ucap Aileen.

Jean tersenyum menatapnya, “Jadi Aileen, lo mau rubah status sahabat jadi pacar sama gue?”

Aileen menarik tangannya dari genggaman Jean yang tentunya membuat Jean heran, bertanya tanya apakah ia ditolak atau tidak.

Namun, detik selanjutnya ia dibuat kaget karna tiba tiba Aileen memeluknya hingga ia hampir terhuyung ke belakang.

“Gue rasa lo tau jawabannya,” jawab Aileen dan detik selanjutnya Jean ikut memeluk Aileen.

Malam itu, yang mungkin disaksikan banyak orang mereka merubah statusnya yang sebelumnya sahabat menjadi pacar.

“Tapi nih ya Ai, lo waktu bareng terus sama dia gimana? seneng ga?” tanya Jasmine.

Aileen terdiam, ya sejujurnya ia merasa senang bersama Jean. Dibuat tertawa walaupun sering bertengkar kecil.

“Ya .... gitu deh,”

Maudy yang melihat respon Aileen dibuat kesal, “Yang bener asu!”

“Eitss! santai santai, becanda elah tegang amat.”

“Ya jujur seneng sih, dia bikin gue lupa sama kesedihan gue waktu disakitin Jo. Gue nyaman sama dia, anaknya seru, sefrekuensi juga. Apa ya? he treat me better than Jordan.” ucap Aileen.

“Itu namanya lo suka sama dia Aileen,” ujar Jasmine.

“Ih tapi cuma temen doang Mine!” sanggah nya.

“Gue tabok lo ya? Udah deh gausah denial.”

“Nih sekarang lo agak jauhan sama dia, perasaan lo gimana?” tanya Maudy.

“Kehilangan ga?”

Aileen hanya diam disuguhi pertanyaan oleh Maudy, “Diem nya lo, gue anggap iya.”

“Confess Ai, jangan berlindung dibalik kata cuma temen.” ucap Alya.

“Tapi kan—”

“Confess selagi masih ada kesempatan, biar lo lega. Daripada ga sama sekali dan lo bakal nyesel selamanya.” ujar Jasmine.

Perkataan teman temannya membuat Aileen berfikir. Pikirannya tertuju pada satu kata, Confess. Semoga hal baik berpihak padanya.

Aileen sudah tiba di rumah Maudy 15 menit yang lalu. Kini, dirinya sedang menonton serial kartun disney dilaptop milik Maudy. Jasmine sendiri sedang menerima telfon dari sang mama.

Maudy baru saja memasuki kamarnya bersama Alya sambil membawa paperbag berisi makanan yang tadi mereka pesan.

“Sini makan dulu,” ucap Maudy karna jam menunjukkan waktu makan siang.

Aileen menyudahi tontonannya dan menghampiri teman temannya yang sudah berkumpul.

Jasmine membuka suaranya, memutus keheningan. “Eh denger denger kemarin si Reva berantem sama Jordan.” Sontak Aileen yang sedang makan pun menoleh, “Lah? Kenapa emang?”

“Katanya sih, si Reva ketauan sama si Jordan jalan sama cowo fakultas sebelah tapi gamau ngaku,” jelas Jasmine.

“Emang ya, hubungan hasil selingkuh ga akan bertahan lama,” ujar Maudy.

Alya menoleh menatap Aileen, “Lo sendiri gimana?” tanyanya.

“Gimana apanya?”

“Sama si Jean,” Aileen yang sedang minum pun tersedak mendengarnya.

“Apaan sih, gue kan udah bilang cuma temen doang.” sanggah Aileen sambil mengambil french fries milik Jasmine.

Jasmine memukul pelan paha Aileen, “Kentang gue anj.”

Aileen meliriknya sambil ketawa, “Bagi elah, pelit amat.”

“Lagian, dia bilang gamau punya pacar dulu. Males katanya,” sambung Aileen.

Maudy diam sejenak, “Tapi akhir akhir ini lo udah jarang pulang berangkat, jalan bareng sama dia. Kenapa?” tanyanya.

Aileen menghela nafasnya, “Lo pada nih ya, gue sama dia mulu ngoceh, gue udah ga bareng dia ngoceh juga. Maunya apa coba?” kesalnya.

“Maunya lo jadian sama dia,” ucap Alya sambil tertawa kecil yang langsung ditanggapi Aileen dengan timpukan kentang goreng.

“Asu!”

Aileen menuruni tangga dengan sedikit berlari kecil, “Aileen! bisa gak sih jalan aja gausah lari.” tegur Ervin yang tadi sedang mengobrol dengan Jean.

Yang ditegur malah terkekeh, “Ayo Je.” ajak Aileen. Jean menatap Aileen sebentar lalu berpamitan dengan Ervin.

“Gue ajak keluar sebentar ya vin,” ucapnya. Ervin mengangguk, “Pulangnya jangan kemaleman ya Je.”

Jean melajukan mobilnya hingga tiba di depan gor. “Lo mau tunggu sini atau ikut turun?”

“Disini aja ya hehe,” tolak Aileen.

Jean keluar dari mobil untuk membeli cimol langganan Aileen. Tak perlu waktu lama, ia kembali dengan membawa 2 bungkus cimol dan 2 minuman dingin.

“Nih,” Tangannya menyodorkan sebungkus cimol kepada Aileen.

Bisa Jean lihat wajah Aileen yang tersenyum menerima cimol darinya, “MAKASIHH!!”

“Je, lo gak mau nanya gue udah putus atau belum? Gak mau gue cerita gitu?” tanya Aileen penasaran.

Jean yang sedang membuka tutup minumannya pun menoleh, “Kalo lo cerita tapi malah bikin lo sedih, mending gausah.”

Aileen menerima minum yang baru saja di buka oleh Jean, “Jo udah selingkuh sama Reva selama 3 bulan. Selama 3 bulan itu juga dia masih bersikap seolah olah cuma gue satu satunya.”

Jean mendengarkan Aileen tanpa menyelanya sedikit pun. “Gue gak ngerti kenapa dia sejahat itu sama gue. Gue kurang apa ya Je?” Aileen mengakhiri dengan sedikit tertawa miris.

“Gak ada yang kurang dari lo, emang si Jo nya aja yang brengsek ga bisa bersyukur,” Jean membuang botol bekas minumnya ke tempat sampah dekat mobil.

“Udah lah Ai, lo boleh galau, lo boleh sedih, itu wajar kok abis putus. Tapi lo harus inget, banyak diluar sana yang lebih baik dari dia dan lo pantas buat dapetin itu, percaya sama gue.”

Aileen melihat adanya luka yang mulai mengering diujung pelipis Jean.

“Lo abis berantem?” tanya Aileen.

“Hah?”

“Itu ujung pelipis lo”

Jean memegang ujung pelipis nya, “Oh ini, ngga ini mah tadi kejedot pintu. Ngga sakit kok.”

Aileen menatapnya curiga, tangannya ikut memegang ujung pelipisnya. “Bohong lo ya? mana gak sakit? nih gue pegang gini aja sakit.”

“Aduh! iya iya abis berantem, udah dong sakit nih.” Jean meringis kala Aileen menekan lukanya.

“Berantem sama siapa lo?”

“Sama ayam tetangga.”

Aileen menatapnya tajam, “Jean!”

Yang ditatap hanya tertawa, “Sama pacar lo, eh mantan deh.”

“Ngapain berantem sama Jo?! Aduh lo ini ada ada aja sih Je, ngapain coba berantem.” Aileen membuka dashboard mobil Jean mencari kotak p3k yang memang sengaja diletakkan di sana.

Diambilnya plester bergambar dino itu dan menempelnya dipelipis Jean. “Ya gue gak terima sahabat gue disakitin gitu aja.” bela Jean ketika Aileen selesai menempelkan plester.

Aileen menatap nya tak percaya. Jean bertengkar dengan Jordan karna dirinya. “Je, lain kali jangan berantem. Apalagi karna gue.”

“Gue ga akan diem aja kalo ada yang nyakitin sahabat gue Ai” Digenggamnya tangan Aileen, matanya menatap Aileen dalam. “Kalo ada apa apa bilang sama gue ya, gue ga akan segan segan ngebales siapapun yang nyakitin lo.”